

SINGOSARI – Dalam rangka mengisi keberkahan bulan Ramadhan 1447 H, MA Almaarif Singosari menggelar kegiatan TAKJIL (Taklim dan Majlis) pada Kamis (26/2/2026). Bertempat di aula lantai 3 madrasah, acara ini menghadirkan alumni inspiratif tahun 2018, Akhmad Ainur Roziqin, S.Ikom., sebagai pemateri utama di hadapan seluruh siswa kelas XII dan santri yang berdomisili di pesantren.
Ramadhan sebagai Momentum Penguatan Karakter
Acara dibuka langsung oleh Kepala MA Almaarif Singosari, Khoirul Anam, S.Pd., M.M. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menempa kepribadian siswa.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi sarana menumbuhkan empati, membentuk ketaatan, meningkatkan spiritualitas, serta memperkuat kepedulian sosial agar nilai ibadah kita dirasakan manfaatnya oleh sesama,” ujar beliau.
Filosofi Santri dan Kekuatan Doa Guru
Memasuki acara inti yang dipandu oleh moderator Abdullah Labiib (XII-6), Akhmad Ainur Roziqin yang juga dikenal sebagai qori’ pada Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana membagikan pengalamannya. Mengangkat tema “Makna Filosofis Santri”, ia menegaskan bahwa kecerdasan akademik bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan.
“Inti keberkahan ilmu terletak pada akhlak, niat yang besar, dan kecintaan terhadap ilmu itu sendiri. Pendidikan di madrasah memiliki nilai lebih karena adanya doa dari para guru yang menjadi pembeda utama,” tutur Ustadz Roziqin.
Beliau juga mengingatkan bahwa pencapaiannya di tingkat nasional merupakan buah dari barokah Al-Qur’an dan kepatuhan terhadap adab belajar. Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi simbol Islam Nusantara yang moderat, disiplin, namun tetap adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Pesan Inspiratif: Berbagi Manfaat Seperti Matahari
Di hadapan ratusan siswa yang antusias, Roziqin memberikan analogi mendalam mengenai peran santri di masyarakat. Ia mengibaratkan santri seperti matahari yang ikhlas menyinari dan memberi solusi, atau seperti bulan yang meski tak bercahaya sendiri, mampu menerangi semesta.
Sebagai pemungkas, ia mengutip mahfudzot populer “وَمَا اللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ” yang berarti tidak ada kenikmatan tanpa kepayahan. “Melakukan kebaikan yang manfaatnya dirasakan orang lain jauh lebih utama daripada sekadar beribadah untuk diri sendiri sepanjang hidup,” tambahnya.
Keseruan Sesi Interaktif


Suasana semakin meriah saat memasuki sesi tanya jawab dan challenge. Para siswa tidak hanya berdiskusi, tetapi juga ditantang melantunkan shalawat dan pantun secara spontan. Acara kemudian ditutup dengan syahdu melalui pelantunan shalawat bersama yang dipimpin oleh vokalis utama madrasah, Muhammad Zainal Ilmi.
Melalui kegiatan Taklim dan Majlis ini, MA Almaarif Singosari berharap seluruh peserta didik dapat menyerap nilai keikhlasan dan adab, sehingga lahir generasi yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki karakter kuat untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Reporter: Safrina Nayla Karimah (XI-1)

